animasi

animasi blog

Kamis, 08 Januari 2015

Pendidikan Anak Sesuai dengan Perkembangan ( Developmentally Appropiate Practice)

 Pengertian DAP

DAP atau Developmentally Appropiate Practice adalah kosep pendidikan yang sesuai dengan perkembangan anak, yang diperkenalkan oleh para praktisi pendidikan dipelopori oleh Bredekamp. DAP terdiri dari dari tiga dimensi utama, yaitu sebagai berikut:
a. sesuai dengan usia,
b. sesuai dengan individu anak yang unik,
c. sesuai menurut lingkungan sosial budaya.
Menurut kostelnik, Soderman dan Whiren, DAP terdiri dari tiga prinsip utama, yaitu:
a. memperhitungkan bagaimana anak belajar dan berkembang,
b. mempertimbangkan keunikan anak,
c. menunjukan kepedulian yang tinggi pada perbedaan belajar setiap anak.

Landasan DAP

     Konsep DAP sangat sesuai dengan berbagai teori maupun hasil riset tentang pendidikan anak, antar lain:
1. Teori Piaget tentang perkembangan kognitif,
2. Teori Erik Erikson tentang perkembangan emosi,
3. Teori Gardner tentang kecerdasan majemuk,
4. Teori Kolhberg dan Thomas Lickonatentang perkembangan moral, dan
5. Teori Bronfenbrenner tentang ekologi dan kontekstual, serta hasil riset tentang belajar berdasar cara kerja otak.
     Teori Lickona merupakan penyempurnaan Teori Kolhberg, yang membagi tahapan perkembangan moral manusia menjadi empat fase
1. Fase berpikir egosentris, usia 1-4/5 tahun
2. Fase patuh tanpa syarat, usia 4/5-6 tahun
3. Fase balas-membalas, usia 6,5-8 tahun
4. Fase memenuhi harapan lingkungan, usia 8-13/14 tahun

Prinsip-Prinsip pelaksanaan DAP

1. Perencanaan Kurikulum
    Pada perencanaan kurikulum sesuai DAP, perlu diperhatikan beberapa hal berikut (Bredekamp & Coople, 1997)
a. Kurikulum DAP harus mencangkup semua aspek perkembangan anak melalui perkembangan yang terpadu.
b. Harus didasarkan pada pengamatan pendidikan dan catatan yang lengkap tentang minat dan tingkat perkembangan setiap anak.
c. Harus diarahkan pada pembelajaran sebagai proses interaktif.
d. Kegiatan dan materi harus konkret, nyata dan relevan dengan kehidupan anak.
e. Program pengembangan anak usia dini perlu menyediakan layanan dengan cangkupan yang lebih luasdari berbagai tingkat minat dan kemampuan anak pada usia kronologis tertentu.
f. Pendidik perlu mengembangkan berbagai variasi kegiatan dan materi pengembangan, dan mengupayakan kegiatan dengan tingkat kesulitan, kompleksitas, dan aktivitas yang lebih tinggi agar anak telibat aktif dan dapat mengembangkan pemahaman dan keahliannya.
g. pendidik harus membrikan kesempatan pada anak untuk memilih sendiri ragam kegiatan, materi, peralatan, dan waktu yang cukup untuk melakukan eksplorasi.
h. Pengalaman, bahan dan perlengkapan pengembangan yang berasal dari berbagai budaya(multukultur) dan tidak bias gender perlu dikembangkan untuk anak segala usia.
i. Program pengembangan yang disapkan pendidik perlu meperhatikan keseimbangan anak dalam beraktivitas dan istirahat.
j. Berbagai pengalaman dan kegitan di luar ruang perlu dipekenal pada anak segala usia.

2. Interaksi antara Anak dengan Pendidik
     Pelaksanaan DAP sangat bergantung pada pola interaksi  anak denagn pendidiknya. Pendidik dapat berinteraksi dengan baik pada anak-anak bila memiliki pengentahuan yang cukup tentang perilaku anak sesuai tugas perkembangannya dan memahami keunikan setiap ana. Beberapa hal yang perlu dilakukan pendidik agar interaksi dengan anak berjalan dengan baik (Bredekamp & Coople 1997):
a. Pendidik perlu segera merespon semua kebutuhan dan keinginan anak, disesuaikan dengan perbedaan gaya dan kemampuan tiap anak.
b. Pendidik perlu memberikan kesempatan yang beragam bagi anak untuk berkomunikasi.
c. Pendidik perlu memfasilitasi agar anak berhasil dalam menyelesaikan tugasnya.
d. pendidik perlu memahami tanda-tanda anak yang mengalami stres dan cara mengatasinya.
e.Pendidik perlu memfasilitasi perkembangan rasa percaya diri anak dengan cara menerima, menenangkan dan memaklumi perilaku anak.
f. Pendidik perlu memfasilitasi perkembangan kontrol diri anak.
g. Pendidik setiap saat bertanggungjawab atas semua anak yang ada di bawah asuhannya.

3. Hubungan antara Keluarga dan Penyelenggara Program Pendidikan
     Untuk mencapai DAP yang memenuhi aspek kesesuaian individu, perlu terjalin kerjasama yang baik. Bentuk kerjasama sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut (Bredekamp & Coople 1997):
a.Orang tua mempunyai hakdan kewajiban untuk turut serta dalam mengambil keputusan tentang pendidikan anaknya.
b. Pendidik perlu berbagi pengetahuan dengan orang tua tentang ilmu atau rujukan tentang perkembangan anak.
c. Pendidik, orang tua, lembaga, dan konsultan pendidik anak perlu secara berkala menjalin komunikasi.

4. Evaluasi Perkembangan Anak
      Evaluasi perkembangan dan belajar anak secara individu sangat penting bagi perencanaan dan implementasi DAP. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi perkembangan anak sebagai berikut (Bredekamp & Coople 1997):
a. Kebijakan yang berdampak besar pada anak tidak boleh dibuat berdasar satu jenis asesmen saja.
b. Asesmen perkembangan dan hasil observasi anak dapat digunakan untuk mengidentifikasi anak yang memiliki kebutuhan khusus.
c. Prediksi perkembangan anak yang didasarkan pada pengukuran dan norma yang telah di bakukan hanya merupakan informasi normatif yang perlu dipertaynyakan kegunaannya.
d. Bagi tiap anak yang telah memenuhi kelayakan usia program PAUD tertenyu, sebaiknya diatur penempatan anak sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Deni Setiawan,Dian Novita,Mukti Amini,Siti Aisyah,Sri Tatmingsih,Titi Chandrawati,Untung Laksana Budi. (2011). Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta. UT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar